Explorenews.net – Ketua Komite Arli Ibrahim Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Ujung Ladang, Kecamatan Gunung Kerinci, Kabupaten Kerinci, Provinsi keluhan masalah pendidikan tersebut.
Kepada media ini, Arli Ibrahim mengungkapkan agar kepala sekolah (Kepsek) SLBN Ujung Ladang Zamroni diberhentikan dari jabatannya.
Karena diduga oknum Kepsek Zamroni ini melanggar aturan dan pihak di sempat menulis surat pernyataan sikap yang dilayangkan kepada Dinas Pendidikan Provinsi Jambi terkait masalah yang ada di SLBN Ujung Ladang tersebut.
Arli Ibrahim itu juga menyebutkan seluruh wali murid dan sejumlah guru-guru resah dengan kepemimpinan Zamroni sebagai kepsek SLBN ini.
“Warga minta pak Zamroni ini diberhentikan karena banyak melanggar aturan dan pak gubernur Jambi Al Haris harus segera tahu kejadian yang ada di sekolah SLBN ini,” ungkapnya, Selasa (28/1/2025)
Di dalam surat pernyataan sikap itu beberapa alasan penolakan wali murid terhadap Kepsek Zamroni ini antara lain adalah kurangnya transparansi aku akuntabilitas penggunaan dana BOS tahap 1 tahun 2004
Selanjutnya kurangnya disiplin guru tenaga pendidikan serta kepala sekolah. Tidak hanya itu sering ditemukan kelas kosong saat proses belajar
“Selain itu warga juga menyorotkan pembagian bantuan seragam yang tidak merata terhadap murid-murid. Dan juga dana program Indonesia pintar atau ( PIP) yang tidak maksimal,” katanya.
Tidak hanya masalah dana BOS tetapi juga dikeluhkan oleh beberapa guru terkait insentif yang belum dibayar dan ada dugaan pungutan liar (pungli) yang terjadi di sana.
Seperti yang diungkapkan oleh Yola salah seorang guru honorer yang mengajar di slbn tersebut. Kepada media ini dia mengungkapkan bahwa pernah kepsek Zamroni minta uang kepada dirinya untuk pembayaran Dapodik.
Yola menuturkan, selain soal Dapodik juga Zamroni menjanjikan kepada Yola untuk diajukan penerimaan insentif dari provinsi Jambi.
“Dia meminta uang sebesar Rpb7.500.000 dan saya transfer di awal sebanyak Rp 3.500.000 sisanya menyusul l, namun beberapa bulan masalah Dapodik ataupun insentif juga tidak selesai. Akhirnya saya minta uang itu dikembalikan itu pun saya paksa dan di Januari 2025 baru dibayar uang 3500.000 yang saya transfer kepada diri dia dulu,” terang Yola kepada Kabarjambikito.id
Yola juga menyebutkan semua bukti transfer dan bukti-bukti lainnya ada disimpan.
“Bukan hanya saya banyak sini guru-guru kawan-kawan saya yang hingga kini belum diberi gaji, padahal dari dalam BOS itu bisa untuk memberi insentif kami,” katanya.
Hal yang serupa juga dialami oleh Mona, Mona ini merupakan salah seorang perintis di SLBN Ujung Ladang ini, karena pertama buka SLBN ini dia juga mengajar di SLBN tersebut
Lagi-lagi dia mengungkapkan bahwa selama mengajar 1 tahun atau selama 2024 dia tidak pernah menerima gaji .
“Sama pak Zamroni jadi Kepsek, dirinya tak pernah menerima gaji. Dan saat kami tanya, kenapa tidak dari Dana BOS membayar gaji guru. Ia menjawab tidak harus dari Dana APBN membayar gaji guru,” beber Mona.
Terkait hal ini, semua para guru orang tua wali murid, termasuk agar kasus ini terus diangkat, karena jika hal ini tidak ditindaklanjuti maka nasib para guru ataupun orang tua di sana selalu menderita atas kezaliman oknum Kepsek Zamroni ini.
Tidak hanya masalah Pungli ataupun transparansi dana BOS tetapi oknum Kepsek Zamroni ini juga diduga mencetak stempel sendiri tanda tangan komite dipalsukan.
“Buktinya lengkap semua ada di saya nanti kita bahas satu persatu kita ketemu aja bang di Jambi agar lebih jelas,” jelas Arli Ibrahim.
Terkait hal itu, Ardi Ibrahim juga mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu untuk mengungkapkan masalah ini, karena jika tidak dibantu masalah ini akan terus berlarut-larut.
Sementara saat dikonfirmasi kabar Jambi kita Kepsek Zamroni tidak mengangkat telepon hingga tiga kali panggilan.
Sebelum Kepsek Zamroni yang memimpin SLBN Ujung Ladang tersebut adalah Nani Yanti. Dan Nani Yanti ini sangat peduli dan perhatian terhadap semua guru-guru yang ada di sana.
“Kalau ibu Nani dulu orangnya peduli bang, terkadang dana BOS belum cair dia yang berusaha mencari dana lain untuk membayar gaji kami. Kini ibu Nani diangkat jadi Kepsek Kota Sungai Penuh,” ujarnya.






