JAKARTA – Modus penipuan online di Indonesia kembali meningkat dengan memanfaatkan teknologi terbaru kecerdasan buatan (AI).
Seorang praktisi teknologi digital, Mr Bert, melalui akun Instagram @realmrbert, memperingatkan publik bahwa kini penipu dapat membuat duplikasi wajah dan suara seseorang dengan tingkat kemiripan yang nyaris sempurna.
Ia menjelaskan bahwa sudah muncul aplikasi baru yang dirilis empat hari lalu dan mampu menghasilkan tiruan wajah yang sulit dibedakan dari aslinya. Dalam unggahannya, ia menampilkan contoh manipulasi wajah menyerupai Raffi Ahmad, lengkap dengan suara yang sangat mirip. Dengan teknologi ini, penipu dapat membuat korban percaya bahwa mereka sedang berkomunikasi langsung dengan figur terkenal.
“Contohnya ubah jadi Raffi Ahmad seperti ini, lalu bilang selamat menang giveaway 100 juta dan harus bayar pajak dulu. Banyak orang bisa tertipu,” ungkapnya. Ia juga menyebut bahwa software tersebut sangat berbahaya dan sengaja digunakan untuk menipu, bukan sekadar hiburan.
Mr Bert mengingatkan masyarakat agar tidak hanya waspada terhadap panggilan telepon, tetapi juga video call, karena rekayasa visual kini semakin canggih. Modus semacam ini memungkinkan kejahatan online dilakukan dengan memanfaatkan wajah publik figur atau orang terdekat korban.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan besarnya ancaman penipuan digital ini. OJK melalui Satgas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Pasti) mencatat kerugian masyarakat akibat penipuan online mencapai Rp7,3 triliun. Angka itu berasal dari berbagai modus, mulai dari scam berkedok investasi hingga manipulasi identitas digital.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyebut ada lebih dari 311 ribu laporan masuk sejak Satgas Pasti diluncurkan, baik dari dalam maupun luar negeri. Ia menegaskan banyak korban berasal dari kelompok rentan.
“Ini sangat mengerikan. Uang Rp7,3 triliun itu milik pensiunan, janda, pekerja migran Indonesia, pelajar, ibu rumah tangga, dan guru. Mereka semua menjadi korban scam,” ujar Friderica dalam kegiatan Edukasi Keuangan bagi PMI di Jakarta, Senin (10/11/2025).
Ia meminta masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan digital dan tidak mudah percaya pada permintaan dana tanpa verifikasi.(***)






