KERINCI-Kunjungan para mahasiswa yang tergabung dalam Pengurus Daerah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PD KAMMI) Kerinci dan Kota Sungai Penuh ke Panti Asuhan Putra Muhammadiyah di Semurup membawa suasana berbeda bagi anak-anak panti.
Senyum mereka merekah ketika rombongan KAMMI datang, bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga kehangatan yang jarang mereka dapatkan dari luar lingkungan panti.
Aksi bertajuk “KAMMI Peduli Panti” ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk lebih dekat dengan realitas sosial di sekitar mereka.
Bantuan berupa beras, gula, telur, serta bingkisan diserahkan langsung kepada pengurus panti, namun momen yang paling berkesan justru terjadi ketika para mahasiswa meluangkan waktu untuk bercengkerama, mendengar cerita, dan menyemangati anak-anak tersebut.
Di sela canda dan tawa, tercipta suasana emosional yang menyentuh, seolah mengingatkan semua yang hadir bahwa kasih sayang adalah anugerah paling besar yang bisa dibagikan.
Muhammad Zukri, Kabid Sosial dan Pengabdian Masyarakat PD KAMMI Kerinci–Kota Sungai Penuh, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar formalitas organisasi, melainkan cara untuk menghadirkan sentuhan kemanusiaan. Ia mengungkapkan bahwa banyak anak panti yang membutuhkan figur penyemangat.
“Kami ingin hadir bukan hanya sebagai pemberi bantuan, tetapi sebagai kakak yang bisa mendengarkan mereka. Kami berharap kunjungan ini memberi rasa dihargai dan diperhatikan,” ucapnya.
Aksi tersebut meninggalkan kesan mendalam, baik bagi anak-anak panti maupun para mahasiswa. KAMMI Kerinci dan Kota Sungai Penuh berkomitmen menjadikan program peduli panti asuhan sebagai agenda jangka panjang, dengan harapan semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk berbagi dan memperkuat ikatan sosial di tengah kehidupan yang serba cepat.
Di akhir kegiatan, anak-anak panti meminta foto bersama, seolah ingin mengabadikan momen singkat penuh kehangatan itu. Harapan mengalir bahwa setelah pertemuan ini, akan semakin banyak langkah kebaikan yang tumbuh dan mengetuk hati siapa pun untuk peduli pada mereka yang hidup dalam keterbatasan.(ded)






