Dua Gulai Ikonik Kerinci-Sungaipenuh yang Tak Pernah Absen di Setiap Hajatan

SUNGAIPENUH-Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci dikenal memiliki kekayaan kuliner tradisional yang kuat melekat dalam setiap prosesi adat. Di berbagai hajatan, mulai dari syukuran naik rumah, pesta pernikahan, turun mandi, hingga acara kematian, dua hidangan selalu hadir sebagai menu wajib: gulai merah dan gulai putih. Kedua gulai ini menjadi simbol kelezatan sekaligus tradisi yang diwariskan turun-temurun.

Meski beragam menu lain turut disajikan, gulai merah-putih selalu menjadi pusat perhatian. Tradisi penyajian nasi dalam bungkus daun pisang juga semakin menambah aroma khas dan keotentikan kuliner daerah, sehingga menciptakan pengalaman makan yang berbeda dari penyajian modern.

Gulai merah dibuat dari campuran daging dan nangka muda yang dimasak dengan bumbu rempah lengkap, menghasilkan kuah merah dengan rasa gurih pedas yang begitu khas. Aroma rempah yang kuat menjadikan gulai ini identik dengan masakan tradisional Sungai Penuh dan Kerinci.

Sementara gulai putih dikenal masyarakat sebagai versi lokal dari gulai korma. Hidangan ini menggunakan daging dan kentang dengan kuah berwarna putih kekuningan. Cita rasanya lebih lembut, namun tetap kaya akan bumbu sehingga memberikan sensasi gurih yang berbeda dari gulai merah.

Kedua jenis gulai ini bukan sekadar hidangan pelengkap, melainkan bagian dari budaya yang melekat di setiap agenda adat. Keduanya menjadi representasi dari cara masyarakat Sungai Penuh menjamu tamu dengan hidangan terbaik sesuai tradisi warisan leluhur.

Menurut Heni Gustiati, pemilik Hj. Jalisah Catering di Dusun Baru, pesanan gulai merah dan putih hampir selalu mendominasi setiap persiapan hajatan. Ia menyebut tidak ada acara besar di Sungai Penuh dan Kerinci yang luput dari keberadaan kedua menu ikonik tersebut.

Heni menambahkan bahwa permintaan untuk gulai merah-putih datang dari berbagai jenis acara, baik pesta pernikahan maupun syukuran keluarga. Ia menyebut kedua gulai tersebut telah menjadi identitas kuat masyarakat. “Sepertinya sudah menjadi gulai wajib di setiap hajatan,” ujarnya, mengenang usaha catering yang ia lanjutkan dari ibunya.

Keberadaan gulai merah dan putih bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang identitas kuliner yang memperkaya budaya warga Sungai Penuh. Kedua hidangan ini menjadi simbol kehangatan sekaligus kebersamaan dalam setiap perayaan adat dan keluarga.(ded)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *