AGAM – Dalam kunjungan kerja ke wilayah terdampak bencana di Sumatera, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tampak membawa sebuah buku catatan hitam yang selalu berada di tangannya. Buku kecil itu menjadi alat Gibran untuk merekam langsung berbagai keluhan dan permintaan warga yang ditemuinya di posko pengungsian.
Di Kelurahan Salareh Aia, Palembayan, Kabupaten Agam, Gibran berdialog dengan warga yang terdampak banjir dan longsor. Ketika seorang warga menyampaikan kekhawatiran mengenai masa depan pendidikan anak-anak mereka, Gibran terlihat menuliskan poin penting tersebut ke dalam bukunya.
“Pak Wapres, kami mohon perhatian untuk pendidikan anak-anak kami. Kalau bisa diberikan beasiswa atau keringanan sampai kami bisa bangkit lagi,” ujar warga tersebut. Gibran merespons dengan terus mencatat dan mengangguk, memastikan setiap saran terekam jelas.
Tidak hanya di Agam, buku hitam itu juga turut dibawanya saat meninjau pengungsian di Desa Batu Hula, Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan. Di lokasi kedua, pola yang sama kembali terlihat: Gibran menanyakan kondisi warga, mendengarkan keluhan, lalu menuliskan catatan singkat sebelum memberikan tanggapan.
Di hadapan para pengungsi, Gibran menegaskan bahwa semua masukan yang ia terima akan dilaporkannya langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.
“Semua sudah saya catat. Masukan-masukan ini akan kami sampaikan kepada Bapak Presiden untuk ditindaklanjuti,” ujar Gibran.
Ia menambahkan bahwa Presiden telah menginstruksikan percepatan pemulihan untuk wilayah terdampak bencana di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh, terutama terkait kebutuhan anak-anak, sekolah, dan pemulihan rumah warga.
Buku hitam itu akhirnya menjadi simbol komitmen pemerintah untuk mendengar langsung dari masyarakat. Meski sederhana, kehadiran buku tersebut menunjukkan bahwa setiap aspirasi warga dicatat untuk menjadi bahan evaluasi dan tindak lanjut pemerintah pusat.(***)






