Saham Superbank (SUPA) ARB 14,63%, Investor Justru Borong Rp129,8 Miliar

JAKARTASaham PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) atau Superbank mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Senin (22/12/2025). Hingga penutupan sesi I, saham bank digital tersebut anjlok 14,63% dan menyentuh batas auto reject bawah (ARB) di level Rp1.050 per saham.

Meski harga tertekan, aktivitas perdagangan menunjukkan cerita berbeda. Data dari aplikasi Stockbit Sekuritas mencatat saham SUPA justru diborong investor dengan net buy mencapai Rp129,8 miliar.

Sepanjang sesi I, sebanyak 1,15 miliar saham SUPA berpindah tangan dengan frekuensi 343.369 transaksi dan nilai transaksi Rp1,24 triliun, menandakan tingginya minat pasar di tengah koreksi tajam.

Fundamental Superbank Masih Menguat

Dari sisi kinerja keuangan, Superbank mencatat pertumbuhan agresif hingga kuartal III-2025. Hingga September 2025, laba sebelum pajak perseroan meningkat signifikan seiring lonjakan pendapatan bunga bersih yang tumbuh tiga digit secara tahunan.

Tren positif tersebut berlanjut hingga November 2025. Laba sebelum pajak tercatat mencapai Rp122,4 miliar, sementara pendapatan bunga bersih melesat 165% year on year (YoY) menjadi Rp1,4 triliun.

DPK, Kredit, dan Aset Tumbuh Pesat

Kinerja intermediasi Superbank juga terus menguat. Hingga kuartal III-2025, Dana Pihak Ketiga (DPK) menunjukkan pertumbuhan kuat, mencerminkan meningkatnya kepercayaan nasabah terhadap layanan digital perseroan.

Per November 2025, DPK tercatat tumbuh 149% YoY menjadi Rp11,0 triliun. Di sisi lain, penyaluran kredit meningkat 58% YoY menjadi Rp9,3 triliun, sementara total aset naik 69% YoY menjadi Rp18,0 triliun.

Basis Nasabah dan Transaksi Digital Menguat

Secara operasional, Superbank kini telah melayani lebih dari 5 juta nasabah. Rata-rata transaksi harian tercatat melampaui 1 juta transaksi per hari, menegaskan kuatnya adopsi layanan digital perseroan.

Analis: Fundamental Kian Matang Pasca IPO

CEO Sucor Sekuritas, Bernadus Wijaya, menilai kinerja Superbank mencerminkan fundamental yang semakin solid setelah melantai di bursa.

“Pertumbuhan laba, ekspansi kredit yang terukur, serta peningkatan transaksi harian menunjukkan Superbank tidak hanya tumbuh agresif, tetapi juga semakin matang dari sisi fundamental,” ujar Bernadus dalam keterangan tertulis, Senin (22/12/2025).

Ia menambahkan, keberhasilan Superbank memenuhi kriteria KBMI 2 dengan modal inti di atas Rp6 triliun menjadi katalis penting bagi pertumbuhan jangka menengah.

Didukung Ekosistem Grab dan Emtek

Sucor Sekuritas juga memandang prospek jangka panjang Superbank tetap menarik, seiring meningkatnya penetrasi perbankan digital dan kebutuhan pembiayaan di segmen ritel serta UMKM.

Sebagai bagian dari ekosistem Grab dan Emtek Group yang memiliki lebih dari 50 juta pengguna, Superbank dinilai memiliki keunggulan strategis untuk memperluas basis nasabah dan meningkatkan skala bisnis.

“Dengan dukungan ekosistem dan kinerja yang kuat hingga November 2025, Superbank berpeluang menjadi salah satu bank digital terbesar di Indonesia dalam dua hingga tiga tahun ke depan,” pungkas Bernadus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *