JAKARTA – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat virus influenza kembali menjadi perhatian publik. Salah satu varian yang saat ini dipantau secara global adalah influenza A subtipe H3N2, yang dalam pemberitaan populer kerap disebut sebagai “superflu”.
Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan daya penularan virus yang relatif cepat, terutama di wilayah dengan suhu dingin dan kepadatan penduduk tinggi. Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa virus ini masih termasuk dalam kategori influenza musiman yang telah lama dikenal dunia medis.
Apa yang Dimaksud dengan Superflu?
Menurut dokter spesialis anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K), istilah “superflu” bukanlah istilah medis resmi, melainkan sebutan populer untuk varian influenza A (H3N2) subklade K.
“Penularannya memang cepat. Satu orang bisa menularkan ke dua hingga tiga orang di sekitarnya, bahkan mungkin lebih, meskipun data pastinya masih terus diteliti,” ujar dr. Nastiti dalam diskusi daring Mengenali dan Mewaspadai Superflu.
Varian ini pertama kali teridentifikasi pada pertengahan tahun dan menarik perhatian ilmuwan karena penyebarannya yang cepat di beberapa wilayah belahan bumi utara dan selatan.
Awal Penyebaran dan Pemantauan Global
Mengutip laman Gavi.org, subklade K dari H3N2 pertama kali terdeteksi di sejumlah negara Eropa, seperti Norwegia dan Inggris, dengan kemunculan musim flu yang lebih awal dari biasanya, yakni sekitar 4–5 minggu lebih cepat.
Fenomena serupa juga diamati di Jepang, meskipun tren kasus di negara tersebut dilaporkan mulai stabil. Para ahli menegaskan bahwa kemunculan lebih awal tidak selalu berkorelasi dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi.
Profesor Nicola Lewis dari Pusat Influenza Dunia menyatakan bahwa evolusi virus influenza merupakan proses alami yang terus terjadi. Saat ini, pergerakan virus tersebut dipantau melalui Sistem Pengawasan dan Respons Influenza Global (GISRS) milik WHO.
Gejala Superflu
Secara klinis, gejala influenza A H3N2 tidak berbeda dengan flu pada umumnya, antara lain:
Demam tinggi
Menggigil
Sakit kepala
Nyeri otot
Sakit tenggorokan
Batuk dan pilek
Tubuh terasa lemas
Dokter menegaskan bahwa varian influenza tidak dapat dibedakan hanya melalui pemeriksaan fisik. Identifikasi spesifik membutuhkan pemeriksaan lanjutan berupa genome sequencing di laboratorium rujukan.
Kelompok yang Berisiko Mengalami Gejala Berat
Infeksi influenza, termasuk H3N2, berpotensi menimbulkan komplikasi serius pada kelompok rentan, seperti:
Anak balita dan lansia
Penderita penyakit kronis (jantung, paru, diabetes)
Pasien kanker
Individu dengan sistem imun lemah atau pengguna obat imunosupresan
Selain itu, risiko penularan meningkat di lingkungan padat, ruang tertutup, serta pada individu dengan kebersihan diri yang kurang baik.
Cara Pencegahan yang Dianjurkan
Para ahli kesehatan menekankan bahwa pencegahan tetap menjadi langkah utama untuk mengurangi risiko penularan influenza.
Dr. Nastiti menyarankan beberapa langkah berikut:
Imunisasi influenza tahunan, terutama bagi kelompok rentan
Cuci tangan rutin menggunakan sabun
Menggunakan masker saat mengalami gejala flu atau batuk
Menjaga pola hidup sehat, termasuk istirahat cukup dan asupan gizi seimbang
Langkah-langkah tersebut dinilai efektif untuk menekan penyebaran virus dan mencegah lonjakan kasus, terutama pada awal tahun.






