EKONOMI–Nilai tukar rial Iran kembali mencatat pelemahan ekstrem hingga memasuki awal 2026, menandakan tekanan ekonomi domestik yang makin memburuk.
Krisis inflasi, rendahnya cadangan devisa, serta hilangnya kepercayaan publik terhadap mata uang nasional membuat perekonomian Iran berada dalam fase paling rentan dalam beberapa tahun terakhir.
Mengacu pada data Refinitiv, pada akhir 2025 nilai tukar dolar berada di kisaran 45.000 rial per US$. Namun dalam kurun kurang dari satu tahun, tepat pada Rabu (14/1/2026), kurs tersebut ambruk hingga US$1 setara 1,04 juta rial. Artinya, rial melemah sekitar 2.388% terhadap dolar AS—salah satu pelemahan terdalam dalam sejarah Iran modern.
Rial Juga Merosot Terhadap Rupiah
Kondisi serupa terlihat saat rial dibandingkan dengan mata uang Indonesia. Pada akhir 2025, Rp1 bernilai sekitar 45.215 rial. Kini, nilai tersebut meroket menjadi 59.663 rial per rupiah, menunjukkan pelemahan sekitar 31,95% terhadap rupiah.
Situasi ini memperlihatkan bahwa krisis tidak hanya terjadi terhadap mata uang global utama, tetapi merembet hingga mata uang regional seperti rupiah.
Rp1 Juta Setara 59,6 Miliar Rial: Nominal Tinggi yang Menyesatkan
Dengan kurs terbaru, warga Indonesia yang membawa Rp1 juta ke Iran bisa memperoleh lebih dari 59,6 miliar rial. Jumlah tersebut melonjak jauh dibandingkan akhir 2025 yang hanya berada pada 45,2 miliar rial.
Namun nominal yang besar ini tidak mencerminkan kekuatan rupiah maupun keuntungan riil. Jumlah rial yang membengkak justru menegaskan jatuhnya daya beli mata uang Iran. Harga kebutuhan pokok di negara tersebut melesat tajam, membuat nilai puluhan miliar rial tidak sebanding dengan tingkat konsumsi sehari-hari.
Keuntungan Nominal, Risiko Nyata
Secara matematis, rupiah memang terlihat sangat kuat di hadapan rial. Tetapi bagi wisatawan atau pelancong, kondisi Iran saat ini tidak mendukung aktivitas perjalanan. Gejolak ekonomi, ketidakstabilan sosial, dan kondisi keamanan yang belum pulih membuat kunjungan ke negara tersebut kurang disarankan.
Dengan demikian, meski rupiah secara nominal mampu “mengubah” Rp1 juta menjadi miliaran rial, situasi di lapangan memperlihatkan realitas yang jauh berbeda—setidaknya sampai kondisi Iran kembali stabil.






