INTERNASIONAL-Perusahaan penerbit stablecoin terbesar di dunia, Tether, kini mencuri perhatian pasar keuangan global. Bukan lagi semata pemain kripto, Tether diam-diam membangun neraca keuangan yang menyerupai lembaga keuangan besar dengan kombinasi cadangan emas fisik dan obligasi pemerintah Amerika Serikat (U.S. Treasuries) dalam jumlah sangat signifikan.
Langkah ini menempatkan Tether di persimpangan dua aset safe haven tradisional dunia: emas dan surat utang pemerintah AS.
Cadangan Emas Tether Capai Lebih dari 100 Ton
Tether dilaporkan mengakumulasi antara 80 hingga 116 metrik ton emas, baik dalam bentuk cadangan langsung maupun melalui produk emas tokenisasi mereka, XAUT. Jumlah ini menjadikan Tether sebagai pemegang emas sektor swasta terbesar di dunia.
Sepanjang kuartal IV 2025 saja, perusahaan menambah sekitar 27 ton emas, seiring kenaikan harga emas global yang dipicu ketegangan geopolitik dan kekhawatiran inflasi.
Kepemilikan Utang AS Tembus US$141 Miliar
Tidak hanya emas, Tether juga memperbesar eksposur pada obligasi pemerintah AS. Dalam laporan atestasi terbaru yang dirilis akhir Januari 2026, perusahaan melaporkan kepemilikan langsung surat utang AS lebih dari US$122 miliar.
Jika ditambah transaksi reverse repo semalam, total eksposur Tether terhadap Treasuries melampaui US$141 miliar. Angka ini menempatkan Tether sebagai salah satu pemegang non-negara terbesar utang pemerintah AS di dunia.
Komposisi aset tersebut kini menyerupai portofolio bank besar atau manajer investasi global, jauh melampaui citra awal Tether sebagai perusahaan kripto.
Pertumbuhan USDT Jadi Mesin Pendorong
Ekspansi besar ini dipicu pertumbuhan pesat stablecoin USDT. Sepanjang 2025, Tether menerbitkan hampir US$50 miliar token baru, sehingga total peredaran USDT kini melampaui US$186 miliar.
Model bisnis Tether relatif sederhana: dolar yang disetor pengguna untuk mencetak USDT diinvestasikan pada aset likuid, terutama surat utang pemerintah AS jangka pendek. Imbal hasil dari aset tersebut menjadi sumber pendapatan perusahaan, sementara likuiditas tetap terjaga untuk kebutuhan penarikan.
Skala ini membuat Tether menjadi pembeli signifikan Treasury bills, terutama di tenor pendek.
Mulai Jadi Sorotan Regulator
Peran besar penerbit stablecoin dalam pasar obligasi AS mulai menjadi perhatian regulator. Sejumlah kajian memperingatkan bahwa pergeseran dana besar ke stablecoin berpotensi mengurangi simpanan di perbankan tradisional.
Berbeda dengan bank, penerbit stablecoin tidak menyalurkan kredit ke sektor riil. Jika dana masyarakat lebih banyak terserap ke “dolar digital”, ketersediaan kredit di perekonomian bisa terdampak.
Regulasi baru di AS bahkan mulai mengarahkan cadangan stablecoin untuk ditempatkan pada Treasuries dan aset berbasis pemerintah, yang secara tidak langsung memperkuat posisi perusahaan seperti Tether sebagai pembeli swasta utang negara.
Sinyal Perubahan Struktur Keuangan Global
Saat ini, pasar Treasuries AS bernilai sekitar US$26 triliun, sehingga porsi stablecoin masih relatif kecil. Namun, dengan proyeksi pertumbuhan stablecoin hingga triliunan dolar dalam dekade mendatang, langkah Tether dianggap sebagai sinyal bahwa perusahaan berbasis kripto mulai menjadi bagian dari sumber pendanaan sistem keuangan global.
Tether kini bukan lagi sekadar pemain kripto, tetapi telah menjelma menjadi entitas finansial dengan pengaruh nyata di pasar emas dan surat utang negara adidaya.






