JAKARTA – Fenomena Gerhana Matahari Cincin terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026. Peristiwa astronomi ini berlangsung dalam beberapa fase, mulai dari gerhana sebagian hingga puncak cincin api, dengan durasi total beberapa jam.
Namun, masyarakat Indonesia dipastikan tidak dapat menyaksikan fenomena ini secara langsung karena jalur cincin tidak melintasi wilayah Tanah Air.
Rangkaian Waktu Gerhana
Berdasarkan Almanak 2026 yang diterbitkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), berikut tahapan waktu gerhana dalam Universal Time (UT) beserta konversi ke WIB:
Gerhana sebagian mulai: 09.56.14 UT (16.56 WIB)
Fase cincin mulai: 11.42.37 UT (18.42 WIB)
Puncak gerhana: 12.11.44 UT (19.11 WIB)
Fase cincin berakhir: 12.41.21 UT (19.41 WIB)
Gerhana sebagian berakhir: 14.27.29 UT (21.27 WIB)
BMKG menyebutkan jalur cincin api melintasi wilayah Antarktika, sebagian kecil Afrika bagian selatan, serta sebagian Amerika Selatan.
Tidak Terlihat di Indonesia
Meski tidak dapat diamati dari Indonesia, fenomena ini tetap menjadi perhatian publik karena bertepatan dengan dinamika cuaca di sejumlah wilayah.
BMKG menegaskan bahwa gerhana matahari merupakan peristiwa periodik dan tidak berdampak langsung terhadap kondisi cuaca secara signifikan. Namun, pada periode yang sama, beberapa wilayah perairan Indonesia mengalami peningkatan gelombang akibat angin muson barat yang masih aktif.
Peringatan Gelombang Tinggi
Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam mengingatkan potensi gelombang tinggi di wilayah Kepulauan Riau, khususnya Anambas dan Natuna. Kondisi ini dipicu oleh angin utara yang bertiup cukup kencang.
Nelayan dan operator transportasi laut diminta meningkatkan kewaspadaan serta memantau informasi prakiraan cuaca sebelum berlayar, mengingat tinggi gelombang masih berpotensi meningkat hingga 17 Februari 2026.
Apa Itu Gerhana Matahari Cincin?
Gerhana Matahari Cincin terjadi ketika posisi Bulan berada di antara Bumi dan Matahari, namun jaraknya dari Bumi lebih jauh sehingga piringan Bulan tampak lebih kecil. Akibatnya, bagian tengah Matahari tertutup, sementara tepinya tetap terlihat membentuk lingkaran cahaya menyerupai cincin api.
Fenomena ini berbeda dengan gerhana matahari total, di mana seluruh piringan Matahari tertutup sempurna.






