JAKARTA – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah berdampak langsung pada penerbangan internasional, termasuk perjalanan ibadah umrah. Tercatat sebanyak 58.873 jamaah umrah asal Indonesia saat ini masih berada di Arab Saudi dan berpotensi mengalami keterlambatan kepulangan akibat pembatalan sejumlah penerbangan.
Data tersebut bersumber dari Sistem Komputerisasi Pengelolaan Umrah dan Haji Khusus (SISKOPATUH). Situasi memanas menyusul serangan udara yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Ketegangan meningkat setelah Iran membalas serangan tersebut, yang berdampak pada stabilitas keamanan kawasan dan operasional bandara di sejumlah negara Timur Tengah.
Pemerintah Intensifkan Koordinasi
Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah pada Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia, Puji Raharjo, memastikan pemerintah terus memantau perkembangan situasi.
Ia mengimbau jamaah agar tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. Jamaah diminta aktif berkoordinasi dengan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) masing-masing untuk memperoleh informasi resmi dan terkini.
Pemerintah juga menjalin komunikasi dengan Kantor Urusan Haji, KJRI Jeddah, serta KBRI Riyadh guna memastikan keselamatan seluruh warga negara Indonesia.
“Keselamatan jamaah menjadi prioritas utama,” tegasnya dalam keterangan resmi di Jakarta.
Maskapai Tangguhkan Penerbangan
Dampak konflik turut dirasakan sektor penerbangan global. Sejumlah maskapai internasional, termasuk Garuda Indonesia, Emirates, dan Qatar Airways, mengumumkan penangguhan atau penyesuaian jadwal penerbangan ke beberapa destinasi Timur Tengah.
Langkah tersebut diambil sebagai respons terhadap kondisi keamanan dan penutupan wilayah udara di sejumlah titik strategis.
Pemerintah Indonesia terus memantau perkembangan dan berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk mengantisipasi potensi dampak lanjutan terhadap kepulangan jamaah.






