
KERINCI – Aksi penolakan warga terhadap kompensasi pembangunan Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kerinci kembali berlanjut pada Kamis (21/8) sore.
Ratusan warga dari dua desa melakukan aksi demonstrasi dan tertahan di area jembatan menuju lokasi proyek. Aparat keamanan terlihat melakukan pengamanan ketat, bahkan sempat terjadi aksi saling dorong antara massa dan aparat.
Warga menegaskan penolakan terhadap tawaran kompensasi sebesar Rp5 juta per Kepala Keluarga (KK) yang diajukan pihak PLTA. Dari lebih 900 KK di dua desa terdampak, sekitar 500 KK lebih menyatakan tidak bersedia menerima tawaran tersebut.
“Ini bukan sekadar soal uang, tapi menyangkut mata pencaharian masyarakat yang sudah berpuluh tahun bergantung dari mencari ikan di sungai untuk menafkahi keluarga,” tegas Pak Dandi, tokoh masyarakat Pulau Pandan.
“Kalau sungai lama ditutup dan jalur sungai diubah, ikan tidak bisa masuk dari danau. Itu artinya, mata pencaharian warga hilang,” sambunya.
Sebelumnya, rapat mediasi yang difasilitasi pihak kepolisian dan pemerintah bersama PLTA, menurut warga belum menghasilkan kesepakatan, dan itu hanya baru kesimpulan bahwa pihak perusahaan menyanggupi pada tawaran Rp5 juta per KK,
Namun, menurut tokoh masyarakat, warga masih membuka peluang jalan tengah. “Kita tidak mengikuti keinginan PLTA yang Rp5 juta, dan juga tidak sepenuhnya pada keinginan warga Rp300 juta. Yang terpenting ada solusi dan jalan tengah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” lanjutnya.
Hingga berita ini diturunkan, aparat bersama pihak pemerintah desa dan manajemen PLTA masih berada di lokasi proyek untuk melakukan pengamanan serta memantau situasi.(ded)






