
KERINCI – Beredarnya rekaman suara di media sosial Facebook yang menuding adanya unsur kesengajaan dalam hilangnya laptop di lingkungan DPRD Kerinci akhirnya terbantahkan.
Sujoko, Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas di Sekretariat DPRD Kerinci, menegaskan bahwa rekaman tersebut merupakan suaranya, dan dia menegaskan informasi dalam rekaman suara tersebut adalah hoaks dan sama sekali tidak benar.
Dalam press release yang digelar di Kantor DPRD Kerinci, Senin (27/1), Sujoko tampil didampingi oleh Ketua DPRD Kerinci Irwandri, Sekretaris DPRD Jondri Ali, M.Si., dan Staf Khusus Bidang Hukum Hasan Basri, M.H.
“Saya meminta maaf dari hati yang paling dalam atas kegaduhan yang saya timbulkan. Rekaman itu tidak benar (hoaks,red), saya khilaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” ungkap Sujoko, ASN Sekretariat DPRD Kerinci
Sebagai bentuk tanggung jawab, Sujoko menandatangani surat pernyataan bermaterai Rp10 ribu, berisi pengakuan bahwa rekaman yang beredar adalah hoaks dan permintaan maaf kepada pimpinan serta masyarakat Kerinci.
Ketika ditanya mengenai motif di balik pernyataannya yang menimbulkan opini publik negatif, Sujoko mengaku tidak memiliki tujuan tertentu.
“Saya tidak ada niat apa-apa, hanya sedang khilaf saja. Entah kenapa saya terpancing bicara seperti itu,” ujarnya.
Hasan Basri, M.H., Staf Khusus Bidang Hukum DPRD Kerinci, menyebut bahwa penyebaran berita bohong di media sosial bisa berdampak hukum serius.
“Pernyataan seperti itu bisa dijerat pasal 28 ayat 1 UU ITE. Ini bukan hanya mengganggu privasi orang, tapi juga berpotensi merusak stabilitas politik daerah,” tegas Hasan.
Hasan menambahkan, sempat muncul usulan agar Sujoko diproses secara hukum, namun pimpinan DPRD memilih langkah bijak dengan memaafkan dan menekankan agar hal serupa tidak terulang lagi.
“Masih beruntung saudara Sujoko ini, karena Ketua dan Sekwan memilih memaafkan. Tapi ingat, jangan sampai terjadi lagi,” ujarnya.
Sekretaris DPRD Kerinci, Jondri Ali, M.Si., menuturkan bahwa persoalan ini telah diselesaikan secara kekeluargaan.
“Yang bersangkutan sudah meminta maaf secara pribadi dan terbuka. Ia juga menandatangani surat pernyataan bahwa rekaman tersebut hoaks dan karangan semata,” terang Jondri Ali.
Ia berharap kejadian ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak agar lebih bijak bermedia sosial dan tidak mudah menyebarkan informasi yang belum tentu benar.
“Tidak semua yang disajikan media sosial adalah fakta. Masyarakat perlu melakukan kroscek agar tidak menimbulkan fitnah atau salah paham,” pungkasnya.(ded)






