Wamendikdasmen: Pendidikan Hadapi Tantangan Berat

JAKARTA – Fenomena kecanduan media sosial di kalangan anak muda kembali menjadi sorotan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq. Dalam sebuah forum internasional, ia menegaskan bahwa perilaku remaja yang terlalu bergantung pada media sosial mulai memengaruhi pola pikir, hubungan sosial, hingga kepercayaan antarindividu.

Fajar menyampaikan pandangannya saat menjadi pembicara dalam International Conference on Cross-cultural Religious Literacy (ICCCRL) di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa (11/11/2025). Ia menilai, penggunaan media sosial yang berlebihan telah membuat remaja kehilangan arah dan lebih mudah mengikuti arus informasi digital daripada nilai-nilai yang seharusnya membentuk karakter mereka.

Menurutnya, banyak remaja kini menjalani hidup berdasarkan konten media sosial di platform seperti TikTok dan Instagram. Kebiasaan tersebut tidak hanya memengaruhi fokus belajar, tetapi juga berdampak pada kemampuan mereka membangun kepercayaan dengan orang-orang di sekitar.

Fajar menilai bahwa tantangan besar dunia pendidikan saat ini adalah mengembalikan kepercayaan sebagai pondasi kehidupan sosial. Ia melihat gejala munculnya generasi yang semakin sulit percaya pada teman sebaya, bahkan meragukan institusi yang selama ini menjadi pilar masyarakat.

Ia juga menyebutkan bahwa sebagian anak muda memiliki sudut pandang baru mengenai masa depan, identitas diri, dan makna menjadi manusia. Karena itu, pendidikan agama dinilai perlu hadir sebagai penuntun agar generasi muda tetap memiliki pegangan hidup yang memberi arah dan makna.

Fajar menekankan bahwa membangun kembali kepercayaan di lembaga pendidikan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga membutuhkan dukungan berbagai kelompok keagamaan. Nilai-nilai toleransi, penghargaan, dan sikap saling percaya harus terus ditanamkan agar stigma dan prasangka negatif tidak berkembang di kalangan pelajar.

Konferensi ICCCRL yang diselenggarakan Kemendikdasmen bekerja sama dengan Institut Leimena berlangsung selama dua hari, 11–12 November 2025, dan menjadi ajang bertukar pemikiran lintas budaya dalam memperkuat pendidikan literasi keagamaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *