JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok pada perdagangan Kamis (11/12/2025). Koreksi yang terjadi disebut analis sebagai dampak dari aksi jual agresif investor asing yang sudah berlangsung sejak sesi sebelumnya.
Pengamat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa, mengatakan tekanan jual asing menjadi faktor paling dominan yang menyeret indeks ke zona merah.
“Asing melakukan net sell cukup besar kemarin, dan indikasinya pola itu masih berlanjut pada hari ini,” ungkapnya.
Tekanan Jual di Bluechip Memperdalam Koreksi
Reydi menuturkan secara teknikal IHSG sudah berada pada area jenuh beli cukup lama sehingga rentan terkoreksi. Kondisi itu diperparah oleh distribusi besar-besaran pada saham berkapitalisasi jumbo.
“Tekanan kuat terjadi terutama pada saham-saham perbankan big cap dan sejumlah emiten konglomerasi. Ini membuat IHSG semakin sulit bertahan,” jelasnya.
Ia juga menilai bahwa koreksi ini wajar terjadi pasca keputusan The Fed memangkas suku bunga. Sebagian pelaku pasar disebut sudah melakukan antisipasi lebih awal sehingga kini memilih mengambil keuntungan.
Prospek Akhir Tahun Masih Cerah
Meski IHSG sedang melemah, Reydi tetap optimistis prospek indeks menuju akhir tahun bisa kembali positif. Ada beberapa faktor yang dinilai berpotensi menopang penguatan:
Sinyal pemangkasan suku bunga oleh BI
Stabilnya nilai tukar Rupiah
Berhentinya aksi jual asing
Likuiditas institusi domestik yang tetap kuat
Window dressing akhir tahun juga disebut sebagai momentum yang bisa mengangkat indeks dari tekanan.
“Jika BI memberi sinyal pemangkasan suku bunga dan Rupiah tetap stabil, peluang IHSG rebound sangat terbuka. Apalagi menjelang window dressing biasanya pasar bergerak positif,” ujarnya.
Reydi menambahkan sektor perbankan, konsumsi, dan ritel menjadi sektor yang layak dipantau pada periode penutupan tahun ini.(***)






