SUNGAIPENUH – Sejumlah warga Kota Sungai Penuh mengaku lebih memilih menggunakan gas elpiji 3 kilogram (kg) yang didatangkan dari Padang, Provinsi Sumatra Barat, dibandingkan gas elpiji yang berasal dari Jambi. Alasan utama pilihan tersebut diduga karena perbedaan kualitas isi tabung.
Rika, salah satu ibu rumah tangga di Kota Sungai Penuh, mengaku kerap merasa kecewa saat membeli gas elpiji dari Jambi. Menurutnya, gas dari Padang dinilai lebih awet dan sesuai takaran.
“Sering kecewa kalau beli gas dari Jambi,” ujar Rika, Senin (7/1/2026).
Ia mengungkapkan, meski harga gas elpiji dari Padang sedikit lebih mahal, perbedaannya tidak terlalu signifikan dibandingkan kualitas yang dirasakan.
“Selisih harganya cuma sekitar tiga ribuan. Gas dari Padang isinya pas 3 kg, kalau yang dari Jambi rasanya berkurang. Jadi tetap pilih dari Padang,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan beberapa warga lainnya yang menilai gas elpiji dari luar daerah lebih stabil dan tahan lama untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Sementara itu, Roni, salah satu aktivis di Kota Sungai Penuh, menilai fenomena tersebut perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan aparat penegak hukum (APH). Ia menduga ada indikasi ketidakwajaran dalam pendistribusian gas elpiji bersubsidi.
“Ini diduga bukan kebetulan. Bisa jadi ada unsur kesengajaan, hanya saja kita belum tahu siapa pemain di baliknya,” kata Roni.
Ia meminta agar pemerintah daerah bersama APH segera melakukan investigasi menyeluruh, termasuk mendata ulang izin operasional agen dan pangkalan gas elpiji bersubsidi di Kota Sungai Penuh.
“Perlu pengawasan ketat dan pendataan ulang agar hak masyarakat atas gas bersubsidi benar-benar terpenuhi,” tegasnya.
Berdasarkan penelusuran di sejumlah agen dan pangkalan gas elpiji di Kota Sungai Penuh, harga gas elpiji 3 kg dari Padang dijual sekitar Rp32 ribu, sedangkan gas elpiji asal Jambi dijual sekitar Rp29 ribu per tabung.
Perbedaan harga tersebut dinilai warga masih wajar, selama kualitas dan isi tabung sesuai standar. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai dugaan perbedaan kualitas gas elpiji tersebut.(ded)






