JAKARTA — Pemerintah memastikan situasi penyebaran influenza A (H3N2) subclade K atau yang dikenal sebagai super flu di Indonesia berada dalam kondisi terkendali. Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa grafik kasus menunjukkan penurunan signifikan setelah melewati masa puncaknya pada 2025.
Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, dr. Prima Yosephine, menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu merasa cemas karena tren kasus kini justru bergerak turun.
“Berdasarkan hasil pemantauan, tren kasus influenza di Indonesia telah menurun sehingga masyarakat tidak perlu panik,” ujar Prima dalam keterangannya pada 19 Januari 2025.
Data Kemenkes yang dihimpun dari periode 1 Januari 2025 hingga 10 Januari 2026 menunjukkan terdapat 74 kasus super flu yang terkonfirmasi dari total 204 spesimen influenza A (H3N2) yang diperiksa. Temuan tersebut menyebar di 13 provinsi, dengan Jawa Timur dan Kalimantan Selatan menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak, masing-masing 18 laporan.
Kemenkes juga mencatat bahwa puncak kasus terjadi pada minggu ke-40 tahun 2025, kemudian menurun tajam mulai minggu ke-44. Bahkan, sejak memasuki minggu ke-52, tidak ada lagi temuan kasus baru.
Sebaran kasus super flu 2025–2026 tercatat di:
- Jawa Timur (18 kasus)
- Kalimantan Selatan (18 kasus)
- Jakarta (11 kasus)
- Jawa Barat (10 kasus)
- Sumatera Selatan (5 kasus)
- Sumatera Utara (3 kasus)
- Bali (2 kasus)
- NTT (2 kasus)
- Jawa Tengah (1 kasus)
- NTB (1 kasus)
- Sulawesi Selatan (1 kasus)
- Sulawesi Utara (1 kasus)
- Yogyakarta (1 kasus)
Mayoritas Pasien Bergejala Ringan
Kemenkes menegaskan bahwa sebagian besar penderita influenza—termasuk super flu—menunjukkan gejala ringan hingga sedang. Kondisi tersebut umumnya dapat pulih tanpa perawatan khusus.
Kasus berat lebih sering ditemui pada kelompok berisiko tinggi, di antaranya:
- Lansia
- Pasien dengan penyakit penyerta (komorbid)
- Individu dengan daya tahan tubuh lemah
Terkait laporan kematian akibat influenza, Prima menjelaskan bahwa faktor komorbid memegang peranan penting dalam memperberat kondisi pasien.
“Influenza tidak selalu menjadi penyebab kematian utama, tetapi dapat menjadi pencetus yang memperburuk kondisi kesehatan yang sudah tidak stabil, terutama pada pasien lansia dengan komorbid,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa infeksi dari virus maupun bakteri dapat memperparah penyakit dasar yang sudah tidak terkendali, sehingga perlu kewaspadaan ekstra bagi kelompok rentan.






